Selamat Datang di Blog ini, Semoga Blog ini Membantu Bagi Anda.. :)


Perang Google Lawan Pencarian Jahat


Jakarta - Algoritma Google yang legendaris sebagian besar masih misterius terkait situs mana saja yang ditampilkan di halaman depan mesin pencari mereka. Kini muncul tokoh ‘Si Jahat’.
Masih terbayang di ingatan kita saat kasus ‘Kebaikan SBY’ malah memunculkan koreksi Google berupa ‘Keburukan SBY’. Muncul beberapa dugaan namun tidak dipungkiri, Google memiliki sistem tersendiri yang tidak bisa dipastikan pihak lain.

Google memang membantu siapapun mencari sesuatu dengan mudah dan cepat. Apalagi, Google menangani hampir dua pertiga pencarian internet di Amerika Serikat dan merenggut miliaran dolar dari pengiklan, berdasarkan keterangan Times.
Beberapa pengamat teknologi mengukur pemilihan Google berdasarkan popularitas, relevansi hitungan link, kata kunci, kategori dan faktor lainnya. Namun, teori itu terbantahkan.
November lalu, wartawan New York Times David Segal melaporkan strategi penjual kacamata ‘bermerek’ untuk mencapai posisi teratas di Google. Segal juga mengungkapkan bagaimana kata gaun mahal, karpet dan tempat tidur malah terarah ke link palsu atau situs yang tidak relevan, BulgarianProperty.
“Banyak konten negatif muncul di halaman yang tidak seharusnya. Selain itu, ada pula puluhan pihak pengiklan yang sebenarnya tidak berhubungan dengan pencarian konten yang kita inginkan. Bahkan terkadang, Google didominasi link pengiklan,” kata Harry McCracken, penulis blog teknologi Technologizer.
Google sempat mengklaim telah membenahi mesin pencari mereka dengan perbaruan terus-menerus sehingga memunculkan sistem adil pada urutan mesin pencari. Menurut Google, 12% dari seluruh pencarian akan mendapatkan hasil yang berbeda dari sebelumnya.
“Pengukuran ilmiah menunjukkan kualitas pencarian kami paling baik dibandingkan semuanya saat ini,” kata salah satu penjaga algoritma Google, Amit Singhal. Namun, ia mengakui ada beberapa kegagalan yang harus diperbaiki, termasuk keberadaan situs tipuan di halaman depan, hasil pencarian yang salah ataupun ketidakcocokan dengan kata yang dicari.
“Kami sudah menyadari itu dan perusahaan akan terus melakukan revisi. Namun, membuat perubahan secara spontan tidak ada dalam DNA kami.”
Di sisi lain, Yahoo Contributor Network VP, Luke Beatty mengatakan bahwa Google memiliki semacam ‘kotak hitam’ yang memiliki dampak besar pada layanan, termasuk konten negatif. “Kami melihat sekitar sepertiga konten Yahoo ikut naik (akibat Google) namun dua pertiga lainnya tersingkir,” kata Beatty dalam konferensi paidContent 2011.
Pasang surut bisnis mesin pencari memang tidak hanya dialami Google maupun Yahoo. Menurut laporan konsultan teknologi Sistrix, beberapa situs termasuk Answerbag.com dan Trails.com merasakan kerusakan signifikan dalam peringkat mesin pencari mereka.
Google juga mengalami masalah dengan malware. Berdasarkan keterangan Barracuda Network, satu dari lima hasil pencarian mengarah ke sistem pengganggu itu. Level malware telah meningkat setidaknya 55% tahun ini dibandingkan sebelumnya.
Selain Google, Barracuda juga menganalisis hasil pencarian Bing, Twitter dan Yahoo. Untuk mendapatkan kesimpulan, vendor keamanan ini melakukan pencarian di internet menggunakan kata kunci dari topik paling populer. Hasilnya dianalisis oleh mereka untuk mencari kode berbahaya. Ternyata, pelaku kriminal di internet memanfaatkan topik terpopuler untuk ‘menarik’ perhatian para pengguna.
“Penyerang saat ini terfokus bagaimana cara mereka mendapatkan informasi paling menarik perhatian masyarakat demi menarik keuntungan. Saat ini, jejaring sosial dan mesin pencari merupakan jawabannya,” kata kepala penelitian Barracuda Network, Paul Judge yang menganalisis 157 ribu topic terpopuler dan 37 juta hasil pencarian.
Mantan pemimpin redaksi media online BusinessWeek John A Byrne mengatakan masalah dasar Google adalah ketidakmampuan perusahaan mengejar peluang untuk memperluas lingkup operasi dengan mengorbankan produk inti. “Apa yang benar-benar mengikis dominasi perusahaan dalam bisnis mesin pencari adalah mereka begitu kuno dan dihadapkan oleh pesaing yang baru dan inovatif.”





Share/Bookmark

0 Komentar:

Posting Komentar